Aku takut

Bukannya aku tak ingin menghampirimu
Aku takut
Aku takut kehadiranku mengganggumu

Bukannya aku tak cinta padamu
Aku takut
Aku takut cintaku padamu melebihi cintaku pada tuhan

Bukannya aku tak ingin memperjuangkanmu
Aku takut
Aku takut perjuanganku memperjuangkanmu tak berujung membuatmu bahagia

Kelak takdirmu kan datang dan takdirku juga datang
Jodohku dan juga jodohmu
Aku berharap itu dirimu

Tapi, jika tuhan berkata bukan aku untukmu
Aku takut
Aku takut tuhan marah
Lebih baik begini, cukup saja begini
Sampai nanti…

Dia “mungkin nanti” dan aku menunggumu.

that abaout how i fill.

Hanya Menulis (coretan keledai berpeci)

Selalu saja ada saat bilamana sepi menghampiriku mungkin saja ia imbas dari kepenatan yang tak terlerai yang telah terjadi dalam perjalanan hidupku. Ia hadir begitu jelas bahkan menjadikanku berbeda. Hal itu seperti apa yang kurasakan seketika semuanya terasa sangat begitu hampa, dan ia hadir saat jiwa ini jauh dari sang penciptanya. Mungkin saja karena sepinya hari-hari yang terlewati menciptakn kesendirian dalam lamunan. Ia hadir begitu begitu saja bahkn bertubi-tubi seperti menghantui raga ini. Sedang yang terlihat di sekitar mereka bahagia dengan jiwa mereka yang ramai dengan pasangan masing-masing yang terbungkus perkembangan zaman mencetuskan sebuah kata “berpacaran”.

Entah apa dan bagaimana raga ini menuntutnya, mengapa hinga saat ini ragaku masih saja sendiri tak ada yang menemani layaknya mereka manusia yang mengikuti perkembangan zaman. Hanya coba berjalan saja kedepan sembari terus mencarinya. Entah benar atau tidak aku ingin sekali segera berujung pada persinggahan akhir kesendirian ini. Sampai kapanpun aku tak tahu.

Jika…

View original post 991 more words